Mcmillan80hardin's website

Our website

15
Ja
Pengertian Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam
15.01.2017 05:48


Pikir bahasa ‘Aqiqah artinya: menyabet. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, karena dipotongnya sosial binatang beserta penyembelihan ini. Ada yang mengatakan jika aqiqah ialah nama untuk hewan yang disembelih, disebut demikian karena lehernya dipotong Ada agaknya yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang ditemui pada penyelenggara si budak ketika ia keluar mulai rahim embuk, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 termuda untuk balita laki-laki serta 1 termuda untuk bocah perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Dari Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak bocah tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi pamor dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan bayi perempuan satu kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang serupa dan untuk perempuan satu kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW relasi ber ‘aqiqah untuk Laksmi dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi seri dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran atas kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak perkara 4, hal. 264]

Tanggapan: Hasan & Husain ialah cucu Rasulullah saw SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad saat melahirkan Rancak, dia mengatakan: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Patokan Aqiqah Bani adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama pandai fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sambil kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai substansi yang sunnah muakkadah merupakan hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai secara aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan siram darinya telau (Maksudnya potong rambut rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujaran: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah amanat, namun sungguh bersifat wajib, karena tersedia sabdanya yang memalingkan mulai kewajiban yakni: “Barangsiapa di antara kalian ada yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, jadi silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Serbuk Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan informasi yang memalingkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu sebagaimana layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh di dalam aqiqah berikut hewan yang picak, kurus, patah urat, dan perih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam fauna aqiqah berikut cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di qurban.

Buraidah berkata: Lepas kami dalam masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan melumangkan kepalanya beserta darah kibas itu. Oleh sebab itu setelah Sang pencipta mendatangkan Agama islam, kami menjagal kambing, menyikat (menggundul) oknum si budak dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud perkara 3, hal. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka menconteng kapas beserta darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur sabut si budak mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW menitahkan, “Gantilah resam itu dengan minyak wangi”.[HR. Putra Hibban secara tartib Ibnu Balban bab 12, sesuatu. 124]

Kegiatan aqiqah dari sisi kesepakatan getah perca ulama ialah hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi SAW bersabda, “Seorang bani terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Meski tidak pula, maka dalam hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Imam Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) buat dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih di hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah semua. Karena pijakan ajaran Agama islam adalah mempermudah bukan merunyamkan sebagaimana firman Allah SWT: “Allah mewujudkan kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berdasar pada sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan jikalau tidak dapat melaksanakannya dalam hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan di dalam hari di empat belas kasihan, dan kalau tidak sanggup, maka di hari ke dua persepuluhan satu, tersebut berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah dari ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih di hari ketujuh, ke empat belas, serta ke 2 puluh wahid. ” (Hadits hasan hal Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih bukan mampu oleh karena itu kapan pula pelaksanaannya pada kala sungguh mampu, karena pelaksanaan di hari-hari ke tujuh, ke empat belas kasihan dan ke dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. Serta boleh pun melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Momongan yang tenang dunia pra hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun bayi yang miskram[cak] dengan ukuran sudah berusia empat bulan di dalam perut ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada memfilter si bocah. Namun jikalau seseorang yang belum pada sembelihkan fauna aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, oleh karena itu dia sanggup menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan apabila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal tersebut tidak apa-apa menurut abdi, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di dalam hari ketujuh dari kemunculan. http://dapoeraqiqah.com/paket-aqiqah-bandung/ Jika bukan bisa, maka pada hari keempat belas. Dan jika bukan bisa agaknya, maka saat hari kedua puluh wahid. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Tapi demikian, bahwa ternyata pada kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri di saat dewasa. Satu pada al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Imam Ahmad menyongsong, “Menurutku, kalau ia belum diaqiqahi ketika kecil, oleh sebab itu lebih cantik melakukannya seorang diri saat kuat. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga mereken demikian. Pendapat mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal ialah satu termuda baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain satu domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kalian harus pulih bahwa Hasan dan Husain adalah bani kembar. Maka pada mono kelahiran ini disembelih 2 ekor kambing.

Namun yang lebih terpenting adalah 2 ekor untuk anak laki-laki serta 1 termuda untuk anak perempuan bertolak pada hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengarahkan agar dsembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor domba dan dari anak dara satu sudut. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan meronce agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor domba yang sama dan mulai anak perempuan satu upaya. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang anak

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama serta mencukur sabut (menggundul) pada hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir di dalam hari Mono-, ‘aqiqahnya lewat pada hari Sabtu.

2. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor wedus sedang untuk anak perempuan 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan terhadap orang tua si anak, akan tetapi boleh pula dilakukan sambil keluarga yang lain (kakek dan sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Bagus Mentah / Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk bani dan wahid ekor wedus untuk bujang perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan sengsara miskin juga bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim. Makin jika hal itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya serta dalam bagan dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi menjarah orang melarat, anak yatim, dan terpidana, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, terpidana pada tatkala itu merupakan orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga pun boleh menghancurkan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Pada masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memperlakukan apakah lelaki atau puan, sebagaimana tambo di bawah ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia relasi bertanya menurut Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak dara satu ekor kambing. Gak menyusahkanmu cantik kambing ini jantan sekalipun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum mendapatkan dalil yang lain yang mengisyaratkan adanya binatang selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Waktu yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasar pada dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 per kelahiran keturunan tersebut. [Lihat pendapat riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Tentang hal dagingnya oleh karena itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, & mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan gak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat dan tetangga untuk menyantap persembahan daging aqiqah yang sudah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan mampu mengundang sobat-sobat dan suku untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Pelerai demam Bazz berkata: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya serta memasaknya lantas mengundang orang-orang yang tuan lihat pantas diundang atas kalangan moyang, tetangga, sobat-sobat seiman serta sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, dan hal serupa dikatakan sebab Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi bahwa ada siratan antara definisi sebuah sebutan dengan yang diberi nama. Hal itu ditunjukan beserta adanya sejumlah nash syari yang memberitahukan hal ini.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Yang mahakuasa mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang terkandung dalam pamor berkaitan dengannya sehingga bagai makna-makna ini diambil darinya dan seumpama nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui imbas nama-nama tentang yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang mendapatkan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Putri Al-Musayyib mengatakan: “Orang ini senantiasa sok keras lawan kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang bagus untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban wali. Di antara nama-nama yang cantik yang padan diberikan merupakan nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana petuah beliau: Atas Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik pendapat ajaran Islam, silahkan kumpulan:

Memberi Identitas Bayi atau Anak Secara Islami


Memotong Rambut

Mencukur rambut merupakan anjuran Rasul yang super baik untuk dilaksanakan tatkala anak yang baru real pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terjepit dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik menyampaikan bahwa Fatimah menimbang ukuran rambut Patut dan Husein lalu beliau menyedekahkan perak seberat serabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan secara rata; gak boleh seharga mencukur sebagian kepala & sebagian lainnya dibiarkan. Tentu saja semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- bertambah besar agaknya sedekahnya.

Doa Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan pamor Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) atas Muhammad dan keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa budak baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Memiliki arti: Aku berlindung untuk anak ini beserta kalimat Yang mahakuasa Yang Sempurna dari seluruh gangguan syaitan dan gelaran binatang dan gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat melorot bagi apa pun yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di satu buah situs mempunyai beberapa nasihat diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim AS tatkala Allah SWT menutup putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di aqiqah tersebut mengandung bagian perlindungan daripada syaitan yang dapat meranyau anak yang terlahir tersebut, dan tersebut sesuai beserta makna hadits, yang berarti: “Setiap bani itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Sang pencipta lebih terlindung dari gelaran syaithan yang sering memegang anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sama Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sama aqiqahnya”.

3. Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak saat hari perkiraan. Sebagaimana Imam Ahmad menunjukkan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat untuk kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan paham taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud rasa syukur buat karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya si anak.

5. Aqiqah sebagai sarana menunjukkan rasa rewel dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menegakkan ukhuwah (persaudaraan) diantara warga.

Dan tetap banyak lagi hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Butala al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free homepage created with Beep.com website builder
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!